Sabtu, 27 Desember 2014

KODE ETIK MENURUT IAI (IKATAN AKUNTANSI INDONESIA) (TUGAS 2)



KODE ETIK MENURUT IAI (IKATAN AKUNTANSI INDONESIA)

Kode Etik IAI adalah aturan perilaku etika akuntan dalam memenuhi tanggung jawab profesionalnya. Kode Etik IAI dirumuskan oleh badan yang khusus dibentuk untuk tujuan tersebut oleh Dewan Pengurus Nasional. Kode Etik IAI mengikat seluruh anggota IAI.
Kode Etik IAI dimaksdukan sebgai panduan dan aturan bagi seluruh anggota, baik yang berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di lingkungan dunia usaha, pada instansi pemerintah, maupu di lingkungan dunia pendidikan dalam pemenuhan tanggung jawab profesionalnya.
Kode Etik IAI terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1. Prinsip etika akuntan 
2. Aturan etika akuntan
3. Interpretasi aturan etika akuntan
Berikut ini akan dibahas dua dari tiga bagian tersebut, yaitu prinsip etika akuntan dan aturan etika akuntan.

Prinsip Etika
Prinsip etika memberikan kerangka dasar bagi aturan etika, yang mengatur pelaksanaan pemberian jasa profesional oleh anggota. Prinsip etika disahkan oleh Kongres IAI dan berlaku bagi seluruh anggota IAI.
Ada 8 prinsip etika, yaitu:
1.      Tanggung Jawab Profesi
Dalam prinsip  tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.
Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat. Sejalan dengan peranan tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka.
2.      Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, mengormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.
Kepentingan publik didefinisikan sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani anggota secara keseluruhan.
3.      Integritas
Integritas adalah suatu elemen karakter  yang mendasari timbulnya pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang mendasari kepercayaan publik dan merupakan patokan bagi anggota dalam menguji semua keputusan yang diambilnya.
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.
4.      Objektivitas
Objektivitas adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota. Prinsip objektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur, secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau berada di bawah pengaruh pihak lain.
Setiap anggota harus menjaga objektivitas dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.
5.      Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Anggota tidak diperkenankan menggambarkan pengalaman kehandalan kompetensi atau pengalaman yang belum anggota kuasai atau belum anggota alami. Kompetensi profesional dapat dibagi menjadi 2 fase yang terpisah:
  • Pencapaian Kompetensi Profesional. Pencapaian ini pada awalnya memerlukan standar pendidikan umum yang tinggi, diikuti oleh pendidikan khusus, pelatihan dan ujian profesional dalam subjek-subjek yang relevan. Hal ini menjadi pola pengembangan yang normal untuk anggota.
  • Pemeliharaan Kompetensi Profesional. Kompetensi harus dipelihara dan dijaga melalui komitmen, pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan kesadaran untuk terus mengikuti perkembangan profesi akuntansi, serta anggotanya harus menerapkan suatu program yang dirancang untuk memastikan terdapatnya kendali mutu atas pelaksanaan jasa profesional yang konsisten. Sedangkan kehati-hatian profesional mengharuskan anggota untuk memenuhi tanggung jawab profesinya dengan kompetensi dan ketekunan.
6.      Kerahasiaan
Dalam kegiatan umum auditor merupakan memeriksa beberapa yang seharusnya tidak boleh orang banyak tahu, namun demi keprofesionalitasannya, para auditor wajib menjaga kerahasiaan para klien yang diauditnya. Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selam melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan.
Anggota mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa staff di bawah pengawasannya dan orang-orang yang diminta nasihat dan bantuannya menghormati prinsip kerahasiaan.
7.      Perilaku Profesional
Kewajiban untuk menghindari perbuatan atau tingkah laku yang dapat mendiskreditkan atau mengurangi tingkat profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staff, pemberi kerja dan masyarakat umum.
8.      Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan profesionalitasnya sesuai dengan standar teknis dan standar professional yang ditetapkan secara relevan.
Standar teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh IAI, International Federation of Accountants, badan pengatur, dan peraturan perundang-undangan yang relevan.

Aturan Etika
Aturan Etika disahkan oleh Rapat Anggota Kompartemen yang bersangkutan. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik merupakan etika profesional bagi akuntan yang berpraktik sebagai akuntan publik Indonesia. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik bersumber dari Prinsip Etika yang ditetapkan oleh IAI.
Berikut ini Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik:
100. Independensi, Integritas, dan Objektivitas
101. Independensi
Dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus selalu mempertahankan sikap mental independen di dalam memberikan jasa professional sebagaimana diatur dalam standar profesional akuntan publik yang ditetapkan oleh IAI.
102. Integritas dan Objektivitas
Dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus mempertahankan integritas dan objektivitas , harus bebas dari benturan kepentingan dan tidak boleh membiarkan faktor salah saji material.

200. Standar Umum dan Prinsip Akuntansi
201. Standar Umum
a. Kompetensi Profesional
b. Kecermatan dan keseksamaan professional
c. Perencanaan dan supervise
d. Data relevan yang memadai.
202. Kepatuhan terhadap Standar
Anggota KAP yang melaksanakan penugasan jasa auditing, atestasi, review, kompilasi, konsultasi manajemen, perpajakan, atau jasa professional lainnya wajib mematuhi standar yang dikeluarkan oleh badan pengatur standar yang ditetapkan oleh IAI.
203. Prinsip- prinsip Akuntansi
Anggota KAP tidak diperkenankan :
(1) Menyatakan pendapat atau memberikan penegasan bahwa laporan keuangan atau dan keuangan lain suatu entitas disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau
(2) Menyatakan bahwa ia tidak menemukan perlunya modifikasi material yang harus dilakukan terhadap laporan atau data tersebut agar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku.

300. Tanggung Jawab Kepada Klien
301. Informasi Klien yang Rahasia
Anggota KAP tidak diperkenankan mengungkapkan informasi klien yang rahasia tanpa persetujuan dari klien.
302. Fee Profesional
a. Besaran Fee
Besarnya fee anggota dapat bervariasi tergantung antara lain: risiko, penugasan, komplektisitas jasa yang diberikan, tingkat keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan jasa tersebut, struktur biaya KAP yang bersangkutan dan pertimbangan profesional lainnya. Setiap anggota tidak diperkenankan untuk menawarkan fee yang dapat merusak citra profesi.
b. Fee Kontijen
Merupakan fee yang ditetapkan untuk pelaksanaan suatu jasa profesional tanpa adanya fee yang akan dibebankan, kecuali ada temuan atau hasil tertentu di mana jumlah fee tergantung pada temuan atau hasil tertentu tersebut.

400. Tanggung Jawab kepada Rekan Seprofesi
401. Tanggung Jawab kepada Rekan Seprofesi
Anggota wajib memelihara citra profesi, dengan tidak melakukan perkataan dan perbuatan yang dapat merusak reputasi rekan seprofesi.
402. Komunikasi AntarAkuntan Publik
Anggota wajib berkomunikasi tertulis dengan akuntan publik pendahulu bila akan mengadakan perikatan audit menggantikan akuntan publik pendahulu atau untuk tahun buku yang sama ditunjuk akuntan publik dengan jenis dan periode serta tujuan yang berlainan.
403. Perikatan Atestasi
Akuntan Publik tidak diperkenankan mengadakan perikatan atestasi yang jenis atestasi dan periodenya sama dengan perikatan yang dilakukan oleh akuntan yang lebih dahulu ditunjuk oleh klien.

500. Tanggung Jawab dan Praktik Lain
501. Perbuatan dan Perkataan yang Mendiskreditkan
Anggota tidak diperkenankan melakukan tindakan dan/atau mengucapkan perkataan yang mencemarkan profesi.
502. Iklan, Promosi, dan Kegiatan Pemasaran Lainnya
Anggota dalam menjalankan praktik akuntan publik diperkenankan mencari klien melalui pemasangan iklan, melakukan promosi pemasaran dan kegiatan pemasaran lainnya sepanjang tidak merendahkan citra profesi.
503. Komisi, dan Fee Referal
a. Komisi
Merupakan imbalan dalam bentuk uang atau barang atau bentuk lainnya yang kepada atau diterima dari klien/pihak lain untuk memperoleh perikatan dari klien/pihak lain. Anggota KAP tidak diperkenankan untuk memberikan/menerima komisi apabila dapat mengurangi independensi.
b. Fee Referal (Rujukan)
Merupakan imbalan yang dibayarkan/ diterima kepada/dari sesama penyedia jasa profesional akuntan publik. Hanya diperkenankan bagi sesama profesi.
504. Bentuk Organisasi dan KAP
Anggota hanya dapat berpraktik akuntan publik dalam bentuk organisasi yang diizinkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku dan/atau tidak menyesatkan dan merendahkan citra profesi.



Sumber:
http://www.iaiglobal.or.id/v02/keanggotaan/?act=anggota&page=11
http://kodeetikiai.blogspot.com/
https://dharmotinambunan.wordpress.com/2012/12/04/8-prinsip-kode-etik-akuntansi/

Senin, 13 Oktober 2014

ETIKA SECARA UMUM

ETIKA



Istilah etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata etika yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti, yaitu tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan.


Beberapa arti etika:

  • Etika sebagai ilmu, yaitu ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral. 
  • Etika sebagai kode etik, yaitu kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak. 
  • Etika sebagai sistem nilai. Nilai mengenai benar-salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat. 
Etika adalah sebuah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mancakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Objek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. Perbuatan dimaksudkan disini adalah yang dilakukan secara bebas dan sadar. Objek formal etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.

Etika merupakan cabang filsafat yang mengenakan refleksi dan metode tugas manusia dalam upaya menggali nilai-nilai moral, atau menerjemahkan pelbagai nilai itu ke dalam norma-norma, lalu menerapkannya pada situasi kehidupan konkret. Sebagai ilmu, etika mencari kebenaran, sebagai filsafat etika mencari keterangan (dan kebenaran) yang sedalam-dalamnya. Sebagai tugas, etika mencari ukuran tentang baik-buruknya tingkah laku manusia.

Beda Etika dan Moral
  • Etika dan moral memiliki arti yang sama yaitu adat kebiasaan. Hanya saja etika berasal dari bahasa Yunani sedangkan moral bersal dari bahasa Latin.
  • Dalam penggunaannya sehari-hari moral/moralitas digunakan untuk perbuatan yang sedang dinilai sedangkan etika digunakan untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada.
Beda Etika dan Etiket
  • Etiket menyangkut “cara” suatu perbuatan harus dilakukan. Etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan, sedangkan etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. 
  • Etiket hanya berlaku dalam pergaulan, sedangkan etika tidak tergantung pada hadir tidaknya orang lain. 
  •  Etiket bersifat relatif, sedangkan etika jauh lebih bersifat absolut. 
  •  Etiket hanya memandang manusia dari segi lahiriah saja, sedangkan etiket menyangkut manusia dari segi dalam.
Beda Etika dan Hukum
  • Hukum lebih dikodifikasi, sedangkan etika tidak dikodifikasi. 
  •  Hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja, sedangkan etika menyangkut juga sikap batin seseorang. 
  •  Sanksi yang berkaitan dengan hukum berlainan dengan sanksi yang berkaitan dengan etika (sanksi hukum bisa dipaksakan, etika tidak bisa dipaksakan). 
  •  Hukum didasarkan pada kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara, sedangkan etika melebihi para individu dan masyarakat. 
  •  Jika hukum mebreikan putusan hukumnya perbuatan, etika memberikan penilaian baik buruknya. 
  •  Etika ditujukan kepada manusia sebagai individu, sedangkan hukum ditujukan kepada manusia sebagai makhluk sosial.
Beda Etika dan Agama
Etika sebagai cabang filsafat bertitik tolak pada akal pemikiran, bukan agama. Etika mendasarkan diri hanya pada argumentasi rasional. Agama bertitik tolak dari wahyu Tuhan melalui kitab suci.



Sumber:
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/ipem4430/etika21.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Etika
http://www.slideshare.net/boscodoho/apa-itu-etika

Rabu, 28 Mei 2014

LANGUAGE BLENDS AND CODE - MIXING

Language Blend

1.      Agitation + Propaganda = Agitprop
2.      Biography + Picture = Biopic
3.      Breath + Analyzer = Breathalyzer
4.      Camera + Recorder = Camcorder
5.      Cheating + Texting = Chexting
6.      Clap + Crash = Clash
7.      Cybernetic + Organism = Cyborg
8.      Documentary + Drama = Docudrama
9.      Emote + Icon = Emoticon
10.  Fact + Fiction = Faction
11.  Fan + Magazine = Fanzine
12.  Global + English = Globish
13.  Guess + Estimate = Guessstimate
14.  Guitar + Arthritis = Guitarthritis
15.  Information + Entertainment = Infotainment
16.  Motor + Pedal = Moped
17.  Simultaneous + Broadcast = Simulcast
18.  Situation + Comedy = Sitcom
19.  Slang + Language = Slanguage
20.  Smack + Mash = Smash
21.  Sports + Broadcast = Sporstcast
22.  Stagnation + Inflation = Stagflation
23.  Television + Photogenic = Telegenic
24.  Web + Seminar = Webminar
25.  Work + Alcoholic = Workaholic



Code - Mixing

1.      Sandrio baru saja membeli komik terbaru di bookstore.
2.      Weekend ini Verrel berlibur ke Bali bersama keluarganya.
3.      Fanya hang-out bersama teman-temannya ke mall.
4.      EXO baru saja comeback minggu lalu.
5.      EXO kembali dengan single terbarunya Overdose.
6.      Nana mendapatkan voucher berlibur ke Korea Selatan.
7.      Pada saat travelling Rina tidak lupa membeli oleh-oleh.
8.      Fanmeeting Lee Min Ho akan dilaksanakan bulan Juli mendatang.
9.      Bulan depan Gio dan Fira akan married.
10.  Setelah proses syuting selesai, film tersebut melalui proses editing.
11.  Safira akan melaksanakan lauching novel pertamanya.
12.  Cinta chatting dengan teman facebooknya.
13.  Saat weekdays beberapa tempat hiburan tidak begitu ramai pengunjung.
14.  Tour guide mengajak para turis berkeliling Candi Borobudur.
15.  Matahari mengadakan sale minggu depan.
16.  Discount berbagai jenis pakaian membuat toko baju tersebut ramai pembeli.
17.  Para customer merasa tidak puas karena pelayanannya tidak baik.
18.  Banyak artis Indonesia mengikuti gaya fashion artis Korea.
19.  Surprise party yang dibuat untuk Lisa berjalan sukses.
20.  Terlalu banyak email, membuat Rani lupa dengan passwordnya.
21.  Banyak pembeli sophie paris yang akhirnya memilih menjadi member untuk mendapatkan potongan harga.
22.  Banyak masyarakat ibu kota melakukan olahraga saat car free day.
23.  Saya mau hunting foto bareng teman-teman!
24.  Setelah deal, keduanya berjabat tangan.
25.  2NE1 akan mengadakan World Tour Concert di Jakarta.



http://grammar.about.com/od/ab/g/blendterm.htm

http://www.brighthubeducation.com/esl-lesson-plans/59679-forming-new-words-compounds-clipping-and-blends/

Senin, 28 April 2014

SHORT REPORT

JELLYFISH




            Jellyfish are not really fish. They are invertebrate animals. This means that unlike fish or peopple, they have no backbones. In fact, they have no bones at all.

            Jellyfish have stomachs and mouths, but no heads. They have nervous systems for sensing the world around them, but no brains. They are made almost entirely of water, which is why you can look through them.

            Some jellyfish can glow in darkness by making their own light. The light is made by a chemical reaction inside the jellyfish. Scientists believe jellyfish glow for several reasons. For example, they may glow to scare away predators or to attract animals they like to eat.

            Most jellyfish live in salt water, apart from a few types that live in fresh water. Jellyfish are found in oceans and seas all over the world. They live in war, tropical seas and in icy waters near the North and South poles.




Sumber: http://www.materi-bahasa-inggris-smp.com/genre-text/report-text/

Sabtu, 29 Maret 2014

HOW TO BE A GOOD CEO

HOW TO BE A GOOD CEO

1.    BE A KEEPER OF THE COMPANY VISION
The CEO is the keeper of the company’s overall vision. I’m not talking about the vision for the next few months, but the larger road ahead. The CEO needs to be able to keep things on course for the current quarter to make sure that the large overarching vision of the company can be achieved. The takeover the world vision of a startup usually can’t be achieved in one year or even in some cases, like Google, in a decade. It takes a great startup CEO to keep the company on track to achieve that vision. A great startup CEO will often judge upcoming initiatives to see if they fit in as a piece of the large puzzle for the bigger vision.
2.    ABSORB THE PAIN FOR THE TEAM
A startup CEO needs to be the personal voodoo doll for a startup. They need to be able to take on a strong burden of stress, pain, and torture all while makinglevel headed decisions. You can’t have the troops stressing and worrying about the difficult challenges at hand. A good startup CEO will absorb the stress, so the rest of the team can carry on. He also needs to be able to mask this pain and stress. Not that he should hide or lie to the team- I’m not encouraging that. Most of the day to day nuances+stresses of a startup aren’t worth having the entire team worry about and the CEO needs to bear that pain.
3.    FIND THE SMARTEST PEOPLE AND DEFER ON DOMAIN EXPERTISE
A startup CEO has a great knack for finding talent. The key is finding people that are smarter than you on specific topics. It might be technical team members/leaders or it might be a new VP of Biz Dev. A startup CEO has to have the ability to find these people and make relatively fast decisions to hire them. They also have to be able to show the fire and passion to convince them to leave what is most likely a better paying and more secure job to join the company. The real key to hiring as a startup CEO comes after the hire. A great startup CEO will be able to trust the hires that they make and defer to them on areas of domain expertise. It’s hard to let go, but you have to learn to, especially when the company grows.
4.    BE A GOOD LINK BETWEEN THE COMPANY + INVESTORS
Whether you want to believe it or not, you are not an investor’s only portfolio company. Even if you are a superstar, they have a handful of other companies to help and a ton of incoming potential portfolio companies. A good investor will pick 2-3 new companies per year to work with. A good startup CEO will be a good link between progress, issues, and areas where they need help with investors. A good portion of early stage startups that raise money will have a board comprised of 3 people: the CEO founder, the investor, and an independent board member. You are the lone representative for your cofounder and other employees.
5.    BE A GOOD LINK BETWEEN THE COMPANY + PRODUCT
I have this unwavering belief that the best companies are those that keep a founder as CEO for the long haul. Not because the founders have the right to be CEO, but because the CEO needs to be close to the product vision of the company. Founding CEOs understand this the best and can carry out that same unified vision over time. To fill in the management gaps a great COO, other board members, and heads of divisions will come along. It’s a strategy that Facebook has employed and why Apple has had a great resurgence with Steve Jobs at the helm. It’s all about keeping the CEO as close as possibly linked to the product.
6.    BE ABLE TO LEARN ON THE JOB
Most startup CEOs didn’t start out with an MBA or some background in growing a company from nothing to something. The best have an ability to learn along the way and embrace their failures to become a better leader. Zuck started when he was 19 and now 7 years later, runs the most powerful internet company. Don’t worry about whether “you’re qualified” as it’s hard to put typical qualifications on the job. You’ll learn the really core stuff along the way. The best startup CEOs will surround themselves with smart mentors to be a sounding board along the way.
7.    NO EXPERIENCE ALMOST PREFERRED
It’s almost better to have a blank slate of zero experience as a startup CEO. If you come in with preconceived notions and block out the scrappy methods of a startup founder, it actually hurts you. Traditional education often trains you to be CEO or manager for a much larger company, not for a startup of under 50 people. It’s a different kind of leadership and company.
8.    HAVE AN UNCANNY ABILITY TO SAY NO
You will be inundated with a list of requests from potential partners, investors, employees, and more. They will all sound absolutely wonderful. As you grow, you will also have the resources to execute more of them. Don’t. It’s easy to say yes, but so very hard to say no. By having an uncanny ability to say no, you can keep your company on track with the large vision you maintain. It will also keep your team members (notice I don’t like to use the word “employees”) laser focused and feel more rewarded as they are able to focus on one thing for a good chunk of time. I’ve seen too many startups sink because the CEO keeps changing what the head of product and engineering should be doing.
9.    HAVE SOME TECHNICAL KNOWLEDGE AND SKILLSET
A good startup CEO shouldn’t be afraid of a little bit of code and a text editor. They don’t need to be diving into the source code on a daily basis, but they need to understand the technical requirements. It’s easy to say “go build this”, but it’s a whole other ball game to understand how to build it. What seems simple may be a huge mountain of a technical feat that just isn’t feasible with the given resources and deadlines. It can also help lend some street cred with hiring early technical team members too.
10. BE ABLE TO BREAK THINGS DOWN INTO SIZABLE CHUNKS + MILESTONES
Remember that huge unwavering vision that you are the keeper of? Odds are it only makes sense to you and your cofounder. You will need to break it up into sizable chunks and milestones for the rest of the team to understand it. You also need to be able to pick when and where to conquer things strategically. What is the past of least resistance so you can gain traction? What can you do first with your given resources?
11. HAVE THE ABILITY TO CALL AN AUDIBLE
Nothing goes according to plan. Things fall through, people quit, shit happens, servers crash, and other random things go bump in the night. You’re going to have to deal with it and fast. This is a football term:
“Seen when the quarterback goes up to the line of scrimmage, sees a defensive alignment he wasn’t expecting, and adjusts by yelling out a new play.”
You’re going to come up against things that you didn’t expect and just be able to call an audible. Launch faster, spend more money here, or even abandon a project.
12. CAN MOTIVATE THE TEAM THROUGH DESPAIR
People love to talk in this business. People love to talk even more when you’re company isn’t fairing well. A great CEO will be able to take those moments of public despair and keep the company focused. They will be able to debunk the rumors or even approach them head on by keeping the members of the company focused on the bigger mission at hand. It can come in simple 5 minute talks or motivational emails. The worst thing you can do is avoid the situation and be passive aggressive. I repeat: DO NOT WUSS OUT.
13. BE A GREAT COMMUNICATOR
You need to be able to portray the energy and passion that you feel into others…over and over and over and over and over and over again on a daily basis. As a startup founder you need to communicate the vision and hope for the future of your startup to the rest of the world. You need to be able to break down the overall vision of the company into something that mere mortals can understand. You can’t speak in crazy technical jargon or industry terms. It needs to be simple, clear, and compelling. You also need to be able to argue your point. Many will pick “fights” with you just to see how strong willed you are. Be respectful, but be very confident in your answer. Often wrong, but never in doubt my friend.
14. DON’T BE A “FAKE CEO”
Mark Pincus, CEO of Zynga, makes a strong case for not being a fake ceo. In short, worry about things that produce results, not fame. If it’s between going to a conference/doing an interview or completing a deal, get the deal done. Don’t “leave it to someone else”. You need to get your hands dirty every single day.
By no means is this an exhaustive or definitive list. In some cases, the traits listed above might be counter-intuitive. What are some traits you’ve seen in great founding startup CEOs? Not the glamorous job you thought it was, eh?



Sumber:

http://jasonlbaptiste.com/featured-articles/14-ways-to-be-a-great-startup-ceo/